Busy December
December isn’t really a holiday.
Saat yang lain bisa ke luar kota, bisa berleha-leha tiduran dirumah, nonton TV sepuasnya, aku –ups salah, kami, nggak bisa melakukan hal-hal itu. Hampir setiap hari dalam bulan Desember ini kami isi dengan rapat, rapat dan… rapat. Preparing an annual event such as Pesantren Kilat isn’t easy. Apalagi kami diamanahkan untuk menghandle Pesantren Kilat untuk siswa SD Vidatra, dan tentu menambah tingkat stress pikiran kami.
Beberapa hari sebelum acara dimulai, seksi acara dan beberapa seksi panitia lainnya tidak tidur sampai pukul 05.00 dini hari hanya karena buku panduan belum selesai di print. Badge peserta dan spanduk dibuat mendadak dikarenakan permintaan dari pihak guru –yang juga mendadak. Merchandise yang dipesan hanya 3 minggu sebelum hari H, alhamdulillah memuaskan.
Syukur, semua kerja keras kami membuahkan hasil yang memuaskan. Hari pertama, kedua, dan ketiga, kami tidak menemui kendala. We can handle it. Sedikit rumit saat mempersiapkan acara penutupan di hari keempat, hari terakhir. Yes, this year, Pesantren Kilat SD is only 4 days! The teachers expected us to make a Muhasabah or… reflection? Maybe, sort of. And the problem is, we did that on the second day earlier. Jadi dengan ide yang belum rampung, kami memutuskan untuk tetap mengadakan muhasabah di Aula. Beberapa sempat takut karna sampai detik-detik terakhir acara muhasabah selesai, tidak ada satupun peserta yang menangis. Padahal kami mengharapkan mereka menangis! It’s a sweet moment, when they cried and apologize to their parents…
Dikomando dengan ucapan Niken (kurang lebih seperti ini), “Kalau kalian masih punya hati, sekarang cari orang tua kalian diluar dan minta maaf!”. Mereka berhamburan keluar menemui orang tua masing-masing. Then, that sweet moment that we waited to happen, happened! They cried. Aah :’)
Maybe I have to rewrite this post’s title. Maybe it should be: A Busy yet Sweet December :)